Ruang kelas kita kali ini adalah Google Meet. Topiknya adalah Bijak Digitalisasi di Pesantren/Sekolah. Sabtu pagi, 23 Maret 2024, Dr. Edi Sutarto, M.Pd, Direktur AQL Islamic School, membuka ruang berbagi dan dialog untuk para asatidz-asatidzah dari berbagai pondok pesantren (boarding school) yang terhimpun di Group WhatsApp besutan DEA Nusantara: “Sharing and Problem Solving Kepengasuhan”. Ruang berbagi ini adalah jawaban atas sejumlah kegalauan—yang kalau tidak segera diselesaikan dapat menjadi kegelisahan—sebagian anggota group perihal penggunaan gadget dan internet di pesantren. Padahal, hari ini, kita sudah tidak bisa lagi menutup diri atas sebuah keniscayaan zaman. Murid-murid di sekolah atau pondok pesantren adalah generasi Z yang sejak lahir dan tumbuh di lingkungan yang sublim dalam aktivitas dan derasnya informasi digital. Jadi, memisahkan Gen-Z dengan dunia digital sama seperti kita berupaya memisahkan ikan dari air. Transformasi Pendidikan Edi Sutarto mengawali paparannya dengan menampilkan cerita tentang siklus hidup seekor Rajawali yang pada usia 40 tahun akan menepi dari hirup-pikuk dunia menuju puncak gunung untuk kontemplasi. Di kesendiriannya, rajawali yang telah melengkung paruhnya itu menghantam-hantamkan paruhnya ke dinding batu hingga copot. Dengan menahan sakit yang tak terperikan, rajawali itu terus menabrak-nabrakan paruhnya ke dinding cadas agar paruhnya yang menua itu segera tanggal. Setelah tanggal, ia harus menunggu beberapa lama sampai paruh barunya tumbuh kembali. Ia menahan lapar yang sangat karena sulit untuk makan. Setelah paruhnya tumbuh, ia cabuti seluruh kukunya yang juga sudah mulai menua dan melengkung sehingga sulit untuk menerkam mangsa. Ia harus Ikhlas menahan sakit yang amat sangat ketika seluruh kukunya tanggal. Berdarah-darah. Pedih. Perih. Sendiri. Ia juga harus bersabar sampai kuku-kuku barunya tumbuh. Ini belum selesai. Setelah kuku-kukunya tumbuh, kini giliran bulu-bulunya dicabuti. Bulu-bulunya yang sudah sangat tebal sehingga ia tidak lagi lincah dalam bermanuver di udara pun habis dicabut tak tersisa. Ia mencabuti seluruh bulu di badannya bukan tanpa penderitaan. Ia kesakitan. Sungguh. Aaaakkkkhhhhh!!! Namun, seluruh proses penanggalan paruh, kuku, dan bulu itu harus Ikhlas dilewatinya agar ia bisa melanjutkan hidupnya sampai harapan berusia 70 tahun tercapai. Ia menahan segala keperihan yang luar biasa di tengah kesendiriannya agar ia sukses melewati proses transformasi siklus hidup seekor rajawali. Setelah melewati itu semua, ia akan hadir lagi dalam kehidupan normal dengan fisik yang kembali muda, ringan, dan lincah dengan kuku-kuku dan paruh yang tajam dan bertenaga. Proses tumbuh paruh, kuku, dan bulu adalah sebuah proses yang dahsyat penuh rasa sakit yang mendera luar biasa. Ustadz Edi mengabarkan beberapa hal penting dalam hal ini. Pertama, itulah gambaran sebuah proses transformasi. Kata ini nampak indah diartikulasikan, tetapi belum tentu semua orang bisa dan sanggup melakoninya. Kata itu bisa saja keluar dimodulasikan oleh seorang pimpinan, mudir, kepala sekolah, atau direktur lembaga sekolah atau pesantren, tetapi tidak semua civitas akademika sanggup menahan sakitnya proses tersebut. Kedua, itulah respon rajawali terhadap berbagai perubahan dalam diri dan situasi eksternalnya. Sebagai sebuah keniscayaan, maka perubahan harus disikapi dan direspon dengan cara yang benar dan bijak. Seluruh bentuk kenyamanan bisa jadi terganggu. Oleh karena itu, seluruh civitas akademika harus terus menerus menyediakan wadah dan wajah kelenturan agar mampu terus berselancar di tengah turbulensi perubahan yang luar biasa. Pasti Anda sepakat, yang berbahaya dalam hal ini adalah mereka yang tidak mau berubah dan yang selalu berubah-ubah. Oleh karena itulah, Ustadz Edi menawarkan dua jenis branding: Leader dan School. Beliau mengingatkan pentingnya upaya membranding diri untuk para pimpinan sekolah. Dua langkah ditawarkan: setiap leader harus bertarget ingin dikenal sebagai siapa ia di mata para staf, orang tua, murid, dan pihak terkait lain. Selain itu, ia harus menentukan hasil yang ingin dicapai dalam perjalanan kepemimpinannya di sekolah. Di sinilah ia harus memiliki kemampuan mengakomodasikan antara harapan dan kenyataan yang ada. Untuk bisa melakukan transformasi dengan benar, maka sekolah harus punya strategi. Strategi terbaik untuk menyikapi ketidaktetapan berbagai situasi yang ada, maka sekolah harus mau dan mampu serta berani menetapkan roadmap atau blueprint-nya. Selanjutnya, beliau mencontohkan roadmap AQL Islamic School (AQLIS) yang dipimpinnya: (2021) Adaptasi dan Alih Kepakaran, (2022) Alih Kepakaran dan Kreativitas, (2023) Kreativitas dan Kemandirian, (2024) Kemandirian dan Peningkatan Mutu, (2025) Peningkatan Mutu dan Model, dan (2026) Model dan Adaptasi Kebaruan. Ia mengingatkan, bahwa bagian terpenting dan krusial dari roadmap tersebut ada pada kemauan dan kemampuan seluruh civitas akademika untuk mewujudkan dan mengeksekusinya. Agar roadmap dapat dengan mantap dieksekusi, maka perlu media yang tepat. Media yang hari ini dipandang paling efektif dan sesuai dengan perkembangan zaman adalah digitalisasi. Ia pun menceritakan bagaimana wacana digitalisasi di AQLIS awalnya bukanlah sesuatu yang dapat diterima begitu saja. Untuk itulah, ia menggunakan model proses perubahan yang ditawarkan Kurt Lewin: unfreezing, moving, dan refreezing. Konsep yang dikenalkan psikolog, peneliti komunikasi, dan pengembangan organisasi Jerman itu pun kini sudah sangat dikenal oleh semua insan AQLIS. Digitalisasi KBM Digitalisasi di AQLIS adalah sebuah terobosan yang berani dan bernas. Mengapa? Sejak awal berdiri, ide untuk mengembangkan KBM yang paperless telah mengemuka. Para murid tidak lagi membaca buku cetakan dan mencatat di buku, tetapi sudah pakai tab, chromebook, atau laptop. Pada kesempatan yang sama, AQLIS pun tertantang untuk mengembangkan perpustakaan digital yang lengkap agar dapat memaksimalkan penggunaan teknologi digital tersebut. Pilihan atas ketiganya pun diteliti dengan saksama kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Dengan demikian, informasi yang tersampaikan kepada para orang tua wali murid sudah sangat diperhitungkan dengan matang. Pilihan untuk menggunakan tab atau chromebook dalam proses belajar mengajar harus didukung oleh standard operating procedures (SOPs) yang jelas dan mampu diterapkan. Dengan demikian, maka harus ada dokumen SOP yang tersosialisasikan dengan baik kepada seluruh guru agar mereka dapat memaksimalkan peran dalam implementasinya sehari-hari. Untuk itu, peran guru sangat penting dalam hal ini. Lalu, bagaimana bila ada murid yang coba-coba membuka situs yang diizinkan (yang memuat konten dewasa, LGBT, kekerasan, atau bully)? Selain sekolah telah memiliki sistem pengamanan software terbaik, mereka juga dibekali dengan kurikulum The Secret of Luqman (TSoL) yang salah satunya adalah mengajarkan dan menanamkan di hati mereka kesadaran bahwa mereka selalu diawasi Allah (muraqabatullah). Selain itu, TSol menanamkan kesadaran untuk senantiasa berbakti kepada ibu bapak, yaitu dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar yang telah diberikan. Oleh karena itulah, para siswa AQLIS terdorong untuk mempersembahkan prestasi terbaik agar jerih payah kedua orang tuanya tidak sia-sia. Ustadzah Nadya Fabarani, M.Sc, Kadiv Kurikulum, menerangkan sejumlah hal yang berkenaan dengan SOP penggunaan tab atau chromebook di sekolah. Ia menginformasikan tentang pelevelan dalam praktik penggunaan gadget. Pelevelan itu berkaitan erat dengan sejumlah aspek: tingkatan kelas, waktu, dan kebijakan
40 Hari Pertama di AQLIS
Tidak semua anak bisa menjadi santri. Tidak semua santri bisa menikmati kehidupan pondok dengan enjoy. Hanya mereka yang sabarlah yang akan sukses. Namun, tidak semua kesabaran tumbuh dari dalam. Ada juga yang harus di-encourage oleh orang-orang terdekat selama berproses. Oleh karena itu, first impression sangat bermakna untuk setiap santri. Di titik inilah waliasrama dan walikelas dapat berperan sangat besar untuk terbentuknya kekuatan setiap santri. Inilah salah satu bentuk layanan cinta pondok kepada para santri barunya. Acara dimulai dengan sambutan hangat dari Ustadz Ridwan Maulana, M.Pd.I., yang mengajak orang tua untuk berperan aktif dalam pendidikan karakter anak. “Pendidikan yang baik tidak hanya berasal dari sekolah, tetapi juga dari rumah. Kami ingin menciptakan sinergi antara orang tua dan sekolah untuk membangun generasi yang berakhlak mulia,” ujarnya. Pengajian kali ini diisi oleh ceramah yang menarik oleh Ustadz Ahmad, yang membahas pentingnya pendidikan karakter dan nilai-nilai Islam dalam mendidik anak. Dalam ceramahnya, Ustadz Ahmad menyampaikan berbagai strategi yang dapat diterapkan orang tua untuk mendukung pendidikan di rumah, seperti penerapan disiplin yang penuh kasih, dan cara membimbing anak untuk memahami nilai-nilai agama. Sesi tanya jawab dan diskusi interaktif pun menjadi bagian tak terpisahkan dari acara, di mana banyak orang tua antusias untuk berbagi pengalaman dan bertanya mengenai tantangan yang mereka hadapi dalam mendidik anak. “Kami sangat menghargai kesempatan ini untuk belajar dan bertukar pikiran dengan guru dan orang tua lainnya,” ujar salah satu orang tua yang hadir. Dengan diadakannya program pengajian ini, AQLIS berharap dapat menciptakan lingkungan yang harmonis dan mendukung bagi perkembangan siswa, serta meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya peran mereka dalam pendidikan anak. Pondok adalah kawah candradimuka pembentukan karakter baik. Santri tidak berangkat dari titik yang sama. Tetapi, mereka dengan ikhlas ingin berproses bersama untuk tujuan yang sama. Oleh karena itu, ada satu proses yang harus difasilitasi dengan sangat baik, yaitu pembiasaan. Pembiasaan ini adalah pintu masuk untuk mendapatkan karakter baik yang diinginkan. Pembiasaan 40 Hari Menurut Covey (1997), sebuah kebiasaan dibentuk dari titik pertemuan antara pengetahuan, keterampilan, dan keinginan. Pengetahuan adalah aspek teoretis, apa yang harus dilakukan, dan mengapa. Sementara keterampilan mengacu kepada bagaimana melakukannya. Sedangkan keinginan adalah motivasi, kemauan untuk melakukan. Irisan ketiga aspek inilah yang membentuk kebiasaan tadi. Nah, proses mempertemukan ketiga aspek tersebut adalah sebuah proses pembiasaan. Salah satu hal menarik di AQL Islamic School (AQLIS) adalah layanan pembiasaan 40 hari pertama. Layanan ini adalah komitmen AQLIS kepada para orang tua wali murid untuk memfasilitasi dan mendampingi para santri baru untuk memulai pembiasaan baik: ibadah, bersabar (misalnya, antre di kamar mandi dan pada saat makan), kepekaan sosial di asrama, dan penanaman adab (kepada Allah, diri sendiri, guru, teman, dan lingkungan). Para santri dengan penuh keikhlasan memasuki ruang kemudi diri untuk melakukan proses dan semua pencapaian karakter tersebut dalam upaya sadar. Yang menjadi ukuran adalah kesungguhan, bukan euforia. Yang menjadi harapan adalah keselarasan antara apa yang diniatkan, dilatihkan, dengan yang dipraktikkan dengan penuh kesungguhan. Kesadaran itulah yang menjadi penggerak utama mereka bisa berkomitmen kepada diri sendiri dan menjadi jejak bermakna untuk masa depan mereka. Yang menarik, pembiasaan ini ternyata memang menjadi kebiasaan baru para santri. Ustadz Fahmi Muhammad Nurdiansyah—Kepala SMA AQLIS Purwakarta—pada “Seremoni Pelaporan 40 Hari Pertama” yang digelar online (Jumát, 23 Agustus 2024) menyampaikan beberapa temuan menarik. “Alhamdulillah, Ustadz, selama di AQLIS kami jadi punya kebiasaan baru. Selama ini, kami sulit bangun untuk qiyamul lail. Sekarang, dengan dibersamai para ustadz di sini, kami tidak lagi sulit untuk bangun malam.” “Alhamdulillah, Ustadz, selama di AQLIS kami terbiasa sholat berjamaah tepat waktu.” “Kami juga jadi konsisten membaca dzikir pagi ba’da Subuh dan dzikir sore ba’da Ashar.” Proses pembiasaan ini memang terjadi dan dilakukan oleh santri, tetapi kami yakin pada gilirannya nanti akan sangat berpengaruh pada keluarga, pondok, dan lingkungan terdekatnya. Pembiasaan itu akan menjadi jejak rintisan untuk sebuah karakter positif mereka yang akan mempengaruhi cara mereka berpikir, merasa, dan mengambil keputusan dalam kehidupan mereka nanti. Pembiasaan itu akan mewarnai semua tindakan berpola yang secara sadar ingin dilakukan setelah 40 hari pertama. Ini penting, karena proses enkulturisasi dan internalisasi akan menemukan ladang suburnya pada proses pembiasaan. Mengapa 40 hari? Ini juga menarik. Proses pembiasaan ini setidaknya berdasarkan pada hadis Rasulullah: “Siapa yang mengikhlaskan dirinya kepada Allah (dalam beribadah) selama 40 hari maka akan lahir sumber-sumber hikmah dari hati melalui lidahnya.” (HR. Abu Dawud dan Abu Nu’man). Juga, hadis,”Siapa yang shalat karena Allah selama 40 hari secara berjamaah dengan mendapatkan takbir pertama (takbiratul ihram imam), ditulis untuknya dua kebebasan: kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari sifat kemunafikan” (HR. Al-Tirmidzi). Masa 40 hari dianggap sudah memadai untuk disebut sebagai kebiasaan. Berharap rahmat Allah atas upaya sadar ini, 40 hari memulai sesuatu yang baru berupa kebiasaan baik dengan disiplin tinggi akan membuat setiap pribadi mampu beradaptasi dengan komitmen yang sudah diniatkan. Setelah membiasakan diri selama 40 hari tanpa henti, ia diharapkan menjadi terbiasa. Jika sudah terbiasa, apa pun akan menjadi mudah dan ringan dikerjakan. Proses internalisasi dan enkulturasi pun berlangsung dengan baik. What Next? Seremoni Pelaporan 40 Hari Pertama sudah selesai. Para murid sudah melaporkan sendiri apa saja yang telah mereka lakukan dan biasakan selama 40 hari pertama di AQLIS kepada orang tua walinya masing-masing. Dengan gaya mereka yang unik, mereka sudah bertutur kepada orang-orang yang mereka cintai, apa pencapaian keren yang telah mereka peroleh. Tetapi, perjalanan menuju pembentukan karakter baik dalam ibadah, belajar, pergaulan sesama murid di kelas dan asrama, kedisiplinan, kemandirian, kerapihan, ketekunan, kegigihan, dan keikhlasan justru baru dimulai ketika komunikasi online dengan orang tua wali berakhir dan laptop ditutup. Welcome to the real journey! Pertama, berjuang untuk istiqomah. Berpura-pura itu tidak akan lama. Bersandiwara pun pasti akan berakhir. Orang tidak mungkin betah lama-lama pakai topeng. Bila sudah demikian, maka wajah, watak, karakter, dan gaya yang aslilah yang akan nampak. Begitu pun pembiasaan yang dipaksakan dan diprogramkan. Kalau hanya sehari dua hari orang masih bisa berpura-pura, bersandiwara, dan pakai topeng yang entah dari mana ia pinjam. Tetapi, kalau sudah 40 hari, maka kita boleh berharap kebiasaan dan karakter baik yang telah mereka lakukan adalah sebuah kesungguhan dan kesejatian. Para ustadz ustadzah pasti punya cerita yang sangat menarik perihal bagaimana orang-perorang berjuang sekuat tenaga untuk bisa mencapai hasil
Peringatan Kemerdekaan RI di AQL Islamic Center
Ruang belajar kita kali ini adalah lapangan utama Arrahman Quránic College (AQC) Megamendung. Tahun ini, peringatan Hari Kemerdekaan RI di lingkungan AQL Islamic Center (AQL) dipusatkan di lembaga pendidikan tertuanya itu. Di lembah seluas lebih kurang lebih 500 meter persegi lapangan hijau tersebut terhampar. Di titik terindah Dusun Cirimpak, Megamendung, pun mendadak ramai oleh kehadiran para sivitas akademika dari pelbagai unit pendidikan AQL. Seperti dua tahun terakhir, AQL kembali menggelar peringatan HUT RI berupa upacara bendera, atraksi kesenian, dan pelbagai lomba. Ini merupakan salah satu dari tiga agenda besar AQL, setelah peringatan 17 Ramadhan dan milad lembaga pada 1 Muharram. Peserta aktif upacara bendera adalah para siswa dan asatidz dari SD, SMP, SMA Tadabbur Qurán (TQ) AQLIS, AQC, Sekolah Hafizh Qurán (SHQ), Spirit of Aqsa (SOA), dan para asatidz di Yayasan Pusat Peradaban Islam (YPPI). Amanah Pembina Upacara Seperti biasa, pendiri AQL Islamic Center, K.H. Bachtiar Nasir (UBN) menjadi pembina di upacara bendera tersebut. Kehadiran beliau menjadi magnet dan pemantik semangat yang luar biasa di antara semua peserta upacara. Momentum itu kemudian dimanfaatkan beliau untuk memberikan amanah dan arahan bagaimana mengisi kemerdekaan dengan tadabbur Al-Qurán. Ada tiga pesan utama beliau. Pertama, merdekakan akalmu, maka merdekalah tanah airmu. Akal yang merdeka akan memudahkan kita untuk mencapai banyak hal. Semua bentuk kemerdekaan bermula dari akal yang merdeka. Dengan itu, bangsa Indonesia akan terus melampaui batas-batas pencapaiannya sebagai sebuah nation. Beliau pun menyitir kata-kata Bung Karno,”Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan.” Yang tersubordinat pasti tidak akan mampu untuk memanfaatkan akalnya dengan maksimal. Yang sublim biasanya sulit untuk berjarak dan melihat gejala. Mereka yang tidak mau dan mampu mengambil jarak aman, akan sulit melihat kemurnian. Mereka yang mampu mengoptimalkan penggunaan akal adalah mereka yang merdeka objek dan cara berpikirnya. Ketika akal diselimuti belenggu keterpesonaan pada pelbagai hal yang tidak ada hubungannya dengan masa depan, maka sesungguhnya kita gagal menjadi manusia Indonesia yang merdeka. Akhirnya, semua jadi biasa. Membiasa. Padahal, tanah air ini dibangun atas dasar pemikiran kritis dan nasionalisme objektif yang mampu menemukan kekuatannya bersama dalam semua kemungkinan untuk berbangsa dan bernegara. Kemerdekaan adalah produk akal yang kemudian dienergikan oleh rasa senasib sepenanggungan untuk menjadi bangsa yang boleh menentukan wujud dan warna masa depannya sendiri. Kedua, merdekakan jiwamu, maka merdekalah bangsa dan negaramu. Bangsa dan negara itu sebuah entitas abstrak. Ketika jiwa Anda merdeka dari rasa takut, maka Anda dapat lantang berpendapat. Mereka yang mampu duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi adalah mereka yang jiwanya merdeka. Beruntunglah mereka yang jiwanya bebas, karena mampu menjadi mercusuar untuk orang lain. Mereka mampu menjadi sumber cahaya. Untuk itu, bebaskan dirimu dari penyakit wahn: cinta dunia dan takut mati. Semangat untuk menjadi diri sendiri akan menular. Bangsa yang kuat adalah yang jiwa rakyatnya kuat. UBN mengutip ucapan Panglima Besar Jenderal Sudirman,”Tempat saya yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah, saya akan meneruskan perjuangan.” Jiwa atau soul adalah suatu entitas yang dianggap sebagai bagian abadi atau spiritual dari seseorang dan diyakini memiliki fungsi berpikir dan berkehendak serta menentukan semua perilaku (Webster’s New World Dictionary of the American Language, 1970:1360). Sesungguhnya, beruntunglah mereka yang mau dan mampu menyucikan jiwanya dan merugilah mereka yang mengotorinya (QS. Asy-Syams 9-10). Mereka yang berjiwa merdeka tidak akan menjilat karena itu akan mengotori jiwa mereka. Mereka tidak tersandera kepentingan apa-apa, sehingga tidak perlu menggadaikan harga diri. Oleh karena itu, untuk bisa merdeka, kita harus berusaha menjadi pribadi yang autentik, yaitu yang bertingkah laku sesuai etika dan nilai keutamaan yang sesuai dengan aspek religius dan moral. Hanya dengan cara inilah kita benar-benar bisa mewujudkan jiwa yang merdeka. Ketiga, merdekakan tauhidmu, maka merdekalah agama dan kemanusiaanmu. Kita senantiasa terhubung dengan kekuatan yang jauh lebih besar, yang mengatur dan memberi arah atas hidup kita. Dengan tauhid yang merdeka, agama tidak lagi menjadi sumber perpecahan. Sifatnya yang rahmatan lilálamiin sejatinya ada ruang kemerdekaan seluruh umat manusia. Kesadaran transendental tentang keesaan dan kemahakuasaan Allah seharusnya menjadi hujjah mendasar yang menjadi orientasi dan target hidup setiap manusia. Dengan demikian, mereka yang tauhidnya benar akan senantiasa berusaha menjadi jalan berkah dan hikmah untuk semua. Kemerdekaan tauhid yang dirasakan setiap manusia adalah fitrah dan amanah mendasar untuk menjalankan peran dan tugasnya sebagai khalifatullah fil ardh. Kita memang diciptakan Allah untuk mampu mencintai yang sepele dan bermakna, yang kekinian dan transendental, serta yang profan dan sakral. Dengan kesadaran itulah, maka bila kemerdekaan diibaratkan bunga dan buah, maka tauhid adalah akar tanaman yang terhujam jauh ke dalam bumi tempatnya disemai, tumbuh, dan tegak berdiri. Mereka yang tauhidnya benar, maka akan mampu tampil sebagai pribadi yang penuh kasih sayang, mampu menumbuhkan dan mengembangkan rasa simpati, empati, dan peduli kepada sesama. Rasa perikemanusiaan yang hadir dalam setiap pikiran, keputusan, dan tindakan adalah perwujudan dan aktualisasi atas tauhid yang merdeka. Wajah pemahaman agama akan sangat mudah dilihat dari bagaimana setiap pribadi bersikap adil dalam praktik beragama dan dalam relasi kemanusiaannya. Dalam konteks ini, UBN pun mengutip apa yang pernah disampaikan KI Hajar Dewantara: Ing ngarsa sung tulodo, ing madya jmangun karsa, tut wuri handayani. Merdeka itu Bahagia Merdeka itu bergembira dan tertawa bersama. Keceriaan itu hadir bersama keluarga besar AQL Islamic Center hari itu. Betapa tidak! Sejumlah atraksi dan penampilan telah menyulap lapangan utama AQC menjadi panggung besar para murid dari SD, SMP, SMA AQLIS, AQC, STIQ, dan SHQ. Agenda tetap AQL Islamic Center itu sangat special. Mari kita tengok. Pertama, inilah ajang saling memberi. Apa yang bisa kita berikan kepada para saudara kita pada hari itu? Inilah kesempatan untuk tersenyum bahagia, tertawa lepas, dan bergembira bersama. Untuk itu, masing-masing unit pendidikan sudah mempersiapkan sejumlah sajian menarik: acara dibuka dengan dua lagu berirama sangat menghentak oleh Ustadz Bayu Ramadhan dan siswa AQLIS 2 Purwakarta, pembacaan puisi “Cerita Anak Palestina” oleh murid SD, teaterikal AQLIS 1 dan SDTQ AQLIS tentang Palestina, dan orasi bahasa daerah—Makassar, Bugis, dan Sunda—dari mahasantri AQC. Mereka sangat menghibur dan mengesankan. Tampil di hadapan orang banyak adalah sebuah kesempatan berharga untuk belajar menguasai panggung, percaya diri, dan memahami karakter diri sendiri. Kedua, salah satu tradisi 17-an adalah aneka lomba. Anak-anak para asatidz AQL disediakan ruang dan waktu untuk saling berlomba. Mereka menapaktilasi sejumlah permainan yang dahulu pernah dimainkan oleh abi, umi, dan kakak mereka. Inilah media penerusan tradisi yang paling efektif. Nanti, mereka
Unlimited Qurán’ Miracles
Ruang kelas kita kali ini adalah salah satu ruang terkenal: Jakarta Convention Center. Ada Milad AQL Islamic Center pada 1 Muharram 1446 H (7 Juli 2024) di situ. Tema milad ke-16 ini adalah Unlimited Qurán’ Miracles. Sejumlah nama beken hadir sebagai pembicara: Bunda Elly Risman, Ustadz Fatih Karim dan Ummu Sujjad, Jamil Azzaini, Annisa Theresia, Ustadz Deden Makhyaruddin, K.H. Bachtiar Nasir, K.H. Abdullah Gymnastiar, Ustadz Umar Makka, Ustadz Husein Gaza, dan Anies Baswedan. Merekalah guru-guru kita hari ini. Berguru kepada sosok-sosok pelaku dan pengamal ilmu adalah sebuah kenikmatan dan keberkahan tersendiri. Mengapa? Mereka bukan hanya ulama tetapi juga intelektual; Mereka bukan hanya intelektual, tetapi juga ulama. Merekalah sosok ulama yang intelek, intelektual yang ulama. Waktu belajar kita cukup panjang hari itu: dua sesi, sejak pukul 09.00 sampai 18.00. Sebuah proses pelatihan dan rihlah ruhani yang sangat menyenangkan. Betapa tidak! Para pembicara adalah pejuang dakwah yang istiqomah di jalurnya masing-masing: psikolog keluarga, pejuang Qurán, motivator mulia, hafidz yang ahli tafsir, ahli tadabbur dan pejuang Baitul Maqdis, dan jurnalis Gaza. Mendengarkan paparan mereka satu persatu, kita seperti dibukakan jendela sehingga bisa menikmati indahnya taman dengan warna-warninya bebungaan. Sejuk, semerbak mewangi, dan menentramkan. Kegelisahan dan Harapan Ada sejumlah catatan menarik dari Milad AQL tempo hari. Pertama, tertangkap ada kegelisahan yang amat mendalam dalam paparan Bunda Elly Risman dan Ustadz Fatih Karim. Mereka sama-sama menyoroti dampak buruk penggunaan handphone yang tak terkendali. Masyarakat gagal merespon dengan bijak teknologi informasi yang merangsek masuk dalam kehidupan mereka yang paling inti: keluarga. Mereka memaparkan kondisi sosial masyarakat yang saat ini sudah dapat dikatakan sebagai kondisi darurat keluarga. Sebagai titik berangkat dan titik kembali, keluarga-keluarga Indonesia tengah dalam bahaya yang krusial. Berbagai penyakit masyarakat kita hari ini: pinjol (pinjaman online), judol (judi online), dan LGBT, hadir sebagai rombongan penyerta ketika pemakaian hp (internet) yang kebablasan tanpa regulasi tegas dan ketat dari pemerintah. Masyarakat benar-benar terperangkap dalam borok sosial yang semakin lebar, bernanah, dan sulit disembuhkan. Kita gagal melihat hulu dan hilirnya karena semua sudah berkelindan dalam semua gerak hidup masyarakat yang cenderung permisif tanpa filter sama sekali. Dua pembicara itu mengutarakan keprihatinan yang mendalam soal bagaimana kehidupan keluarga Indonesia tercabik-cabik oleh ketidakdewasaan dalam merespon gempuran informasi yang tak terkendali lewat hp. Gelombang informasi telah menggulung dan menggerus sendi-sendi kehidupan keluarga Indonesia. Bunda Elly menyoroti fenomena menyusutnya 4,4% otak depan para anak Indonesia karena sejak kecil terpapar pornografi lewat hp. Inilah narkolema (narkotika lewat mata), katanya. Ustadz Fatih Karim mengajak kita meningkatkan kewaspadaan karena kampanye LGBT semakin masif menyerang keluarga-keluarga Indonesia hari ini. Masyarakat tidak akan pernah siap dengan perubahan yang begitu masif ini. Fenomena ini kian mengkhawatirkan setelah sejumlah sekolah mewajibkan setiap siswanya untuk memiliki hp dengan alasan sejumlah aktivitas pembelajaran disampaikan melalui aplikasi. HP wajib dibawa ke sekolah sebagai salah satu perlengkapan belajar. Padahal, hp para siswa tidak diprotek sama sekali. Di luar penggunaan untuk belajar, seorang siswa punya kesempatan dan waktu untuk berselancar ke mana pun mereka mau. Nah, di titik inilah kita tidak lagi bisa mengawasi mereka. Kedua, Sebagai kepala rumah tangga, ayah atau suami disorot oleh tiga pembicara Bunda Elly Risman dan Ustadz Fatih Karim. Mereka sepakat, seorang ayah atau suami harus “hadir” di rumah; Berperan aktif dalam proses pengasuhan anak; Pemegang kendali biduk keluarga dan rumah tangga. Mereka sepakat, kehadiran, kepemimpinan, dan kesiapan seorang suami atau ayah dalam keimanan kepada Allah akan mempengaruhi kualitas hubungan antaranggota keluarga dan akan menciptakan suasana tumbuh kembang yang kondusif untuk para buah hati mereka. Anak-anak yang tumbuh di keluarga dengan kehadiran ayah yang utuh akan berbeda dengan mereka yang fatherless. Oleh karena itu, tidak sedikit seorang ayah atau suami yang kariernya melesat tinggi di luar rumah tapi hancur lebur di rumahnya sendiri. Sesungguhnya, mereka tidak pantas memberikan contoh karena gagal menjadi contoh. Ayah yang hadir pun harus punya ilmu, bagaimana menjaga keluarga mereka dari serbuan gelombang teknologi informasi, terutama virus handphone beserta sosmednya. Kekhawatiran Bunda Elly Risman dan Ustadz Fatih Karim tentang kondisi keluarga Indonesia umumnya belum punya konsep bagaimana menyiapkan anak lelaki untuk siap dan pantas menjadi seorang suami dan ayah. Jangan biarkan anak lelaki kita gagap untuk menjadi suami dan ayah pada waktunya. Mengapa hal ini sangat krusial? Karena tidak sedikit seorang lelaki begitu cemerlang kariernya di luar, masyarakat begitu memuji prestasi dan segala kesuksesannya, tetapi babak belur di rumah tangganya. Tidak sedikit seorang ayah yang sukses kariernya di luar, tetapi hancur lebur perannya sebagai seorang ayah di rumahnya sendiri. Ketidaklengkapan ini sesungguhnya harus menjadi pemicu dan motivasi agar seorang lelaki siap menjadi seorang suami untuk istrinya dan ayah untuk anak-anaknya. Untuk itulah, seorang anak lelaki harus dipersiapkan dengan baik sejalan dengan perkembangan usia dan psikologisnya. Sebutan fatherless country harus segera direspon dengan langkah strategis dan efektif. Sejumlah persoalan sosial yang terjadi di masyarakat hari ini bisa jadi memang berakar dan bermula dari rumah. Bila di rumah seorang anak merasa dirinya diterima apa adanya dan mendapatkan pola asuh yang benar, maka kita bisa berharap sejumlah persoalan sosial sudah selesai. Untuk itu, kehadiran dan keterlibatan intensif seorang ayah dalam proses pengasuhan anaknya menjadi sangat penting. Kehangatan atas kehadiran seorang ayah akan melengkapi dan bersisian dengan kelembutan kasih sayang seorang ibu. Keseimbangan ini sangat dibutuhkan oleh anak-anak agar mereka tumbuh dan berkembang dengan semua kewajarannya. Oleh karena itu, wahai para ayah, pulanglah. Kehadiranmu ditunggu istri dan anak-anakmu. Hadirlah di antara dan bersama mereka. Utuh. Ketiga, pentingnya membangun dan menguatkan nilai keluarga. Keluarga adalah titik berangkat dan pulang. Sebagai satuan sosial terkecil, keluarga punya peranan sangat vital untuk pembentukan karakter generasi penerus bangsa. Ada dua pembicara yang dengan gayanya sendiri-sendiri mengartikulasikan tema penting ini: Jamil Azzaini dan Aa Gym. Keduanya memaparkan makna keluarga sebagai sebuah entitas sangat penting dengan segala dinamika dan keunikannya masing-masing. Sangat nampak bahwa keduanya menyampaikan tema tersebut baik dari sudut kajian maupun refleksi atas berbagai pengalaman sebagai kepala ayah dan kepala keluarga dengan segala dinamikanya. Nilai keluarga secara khusus disampaikan oleh Jamil Azzaini yang menceritakan best practise di keluarganya. Ada tiga hal yang dijadikan Jamil sebagai fondasi dalam membangun keluarganya: family value, taking in the good, dan engage the communication. Family value yang dibangun atas dasar agama: Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Jadi segala sesuatu
Pesan untuk Santri: Angkat Sauh Turunkan Layar
Kesadaran akan luasnya Indonesia dan dunia ini tidak serta merta dimaknai sebagai peluang oleh setiap orang. Berbagai hambatan psikologis dan geografis masih menjadi momok untuk mengkristalkan kesadaran tersebut menjadi sikap mental untuk siap hadir dan hidup di tempat berbeda. Apalagi untuk menjadi pioneer perubahan dan pembangunan di sejumlah titik wilayah yang memang sangat membutuhkan sentuhan perubahan. Ada sejumlah hal yang membuat fenomena tersebut terjadi. Pertama, mental block. Program pikiran ini mendominasi otak bawah sadar yang menghambat keinginan untuk pergi jauh dari keluarga, tanah kelahiran, atau kota kesayangan. Program pikiran yang semula positif tentang kampung halaman tanpa kita sadari menjadi penghambat kemajuan. Dia menghalangi kita untuk dapat melihat kesempatan dan peluang “menjadi” di tempat lain. Kedua, hambatan budaya (culture block). Tidak jelas benar apakah pepatah “mangan ora mangan sing penting kumpul” berpengaruh terhadap sikap mental sejumlah masyarakat kita dalam menyikapi peluang menjadi pioneer perubahan di sejumlah titik wilayah Indonesia. Yang jelas, tidak semua orang merasa nyaman untuk tinggal dan menetap di tempat baru yang jauh dari tempatnya dilahirkan atau tempatnya berbiak dalam keriuhan kota. Rasulullah sangat memahami kondisi mental seperti ini. Oleh karena itulah, beliau pernah berpesan seperti yang dituturkan kembali oleh Bukhari dan Muslim, ”Bepergian adalah bagian dari siksaan yang menghalangi kalian dari makan, minum, dan tidur. Oleh karena itu jika salah seorang dari kalian telah selesai dari maksud kepergiannya, maka hendaklah segera kembali kepada keluarganya.” Keengganan itu justru menutup peluang untuk “menjadi” di titik berbeda atau bahkan terjauh dari posisi kita saat ini. Apakah ini melulu berhubungan dengan keberanian atau semata-mata berkaitan dengan tata nilai budaya? Yang jelas, hanya orang-orang yang beranilah yang dapat melihat dan memanfaatkan peluang lingkungan dengan mengikutsertakan dengan tegas potensi dasar yang dimilikinya. Bukankah mereka yang telah menurunkan layar dan bergegas menuju wilayah baru yang akan menemukan sesuatu yang baru dan menjanjikan? Ada proyeksi menarik di antara keberanian memutuskan untuk mencoba berbiak di tempat yang baru. Anda berani tantangan? Kita dalam Peta Dunia Di titik mana di bumi ini kita dilahirkan? Di mana sekarang kita berbiak sebagai pribadi? Ke mana saja akan kita langkahkan kaki ini di hamparan bumi Allah? Di mana kita akan berakhir nanti? Pertanyaan-pertanyaan menantang itu tergelar dengan sangat lugas pada fase dan langkah ini. Siapa di antara Anda yang hari ini tidak lagi tinggal di kota kelahiran? Sudah berapa lama Anda tinggalkan kota tersebut? Untuk alasan apa kota itu Anda tinggalkan? Apakah suatu hari kelak Anda masih ingin kembali ke sana? Seperti apa sekarang wajah desa atau kota kelahiran kita itu? Apakah muncul kerinduan ketika mengingat itu semua? Kenangan apa yang tiba-tiba menyeruak dalam hati? Wajah dan nama-nama siapa saja yang kemudian muncul dalam benak kita ketika kita mengingat itu semua? Subhanallah. Sebuah catatan sejarah yang tidak akan pernah pudar dalam langkah-langkah kita hari ini. Memang, tidak semua kita sangat cenderung dengan tempat lahir, tetapi mencintai kampung halaman adalah salah satu dari sifat dasar manusiawi yang kita miliki. Quraish Shihab (2011) menuturkan bahwa cinta tanah air adalah naluri manusia. Rasululllah juga demikian. Sebagai manusia, beliau sangat mencintai Mekkah, tempat kelahirannya. Beberapa saat sebelum hijrah, beliau pun berkata kepada Mekkah,”Sesungguhnya engkau, wahai Mekkah, adalah negeri yang paling kucintai. Seandainya pendudukmu tidak mengusirku, aku tidak akan pergi meninggalkanmu.” Sebagai makhluk berdimensi ruang dan waktu, seluruh fase hidup kita pasti berkaitan dengan keduanya. Kita dihadapkan pada satu tantangan menarik. Betapa tidak! Kita diajak untuk melihat posisi kita saat ini sebagai pribadi berdomisili. Sebagai makhluk berdimensi ruang, kita pasti menempati satu wilayah tertentu di bumi ini. Keterbatasan dalam kewajaran menempatkan kita pada satu wilayah pada satu waktu. Kewajaran itu berterima dan menjadi titik gerak kita sebagai makhluk. Pada fase ini, kita diajak untuk berani memikirkan, merencanakan, dan pada gilirannya berani menjejakkan kaki di sejumlah tempat yang belum pernah kita kunjungi. Sejatinya, sebatas apa dunia yang hadir di benak kita? Semoga dia adalah hamparan savanna atau steppa dengan udara terbaik dalam keriangan para gembala. Semoga dia adalah horison yang selalu memberi kabar tentang betapa gemerlapnya gemintang di langit-langit biru nan jernih dalam nyanyi sunyi para nelayan. Semoga pula dia adalah semua kemungkinan yang meruang dalam setiap jejak langkah kita di bumi Allah yang terhampar maha luas ini. Allah tegaskan hal itu: “Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi ini”. (Q.S Nuh [71]:19-20). Selanjutnya, Allah kabarkan satu hal: “Maka apabila telah dilaksanakan shalat, bertebaranlah kam di muka bum; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (Q.S. Al-Jumu’ah (62): 10) Fitrah kemanusiaan telah menempatkan dan memaksa kita hanya ada di satu titik dalam satu masa tertentu. Namun, justru dengan itu kita punya ruang lain untuk sampai pada dimensi transendental yang dapat mengatasi ruang dan waktu itu sendiri. Kekuatan pikiran telah mendorong kita untuk berani memikirkan dan merencanakan ingin berada di titik mana pun di dunia ini pada waktu tertentu nanti. Kekuatan visualisasi dan proyeksi yang Allah berikan kepada kita adalah sarana paripurna buat kita untuk menempatkan diri dalam dimensi ruang dan waktu yang kita inginkan. Di ruang pelatihan, ketika memasuki fase ini, kita akan diberikan sebuah peta dunia sederhana. Kita diajak untuk memberi tanda, di mana kita dilahirkan. Dengan demikian kita diajak mengingat kembali dari mana kita berasal, di lingkungan seperti apa kita dibesarkan, dan dalam semangat zaman seperti apa kita menghabiskan masa kanak-kanak. Jejak ini, meski sederhana, tetap memberi ruang kontemplasi yang cukup signifikan untuk sebuah langkah besar dan bermakna di hari ini dan yang akan datang. Masih di lembar peta yang sama, kita akan diminta untuk menandai (lebih tegasnya, ditantang) untuk menandai ke mana saja akan kita langkahkan kaki untuk belajar, bekerja, beribadah, dan berlibur. Apakah kita juga cukup punya ingatan kuat di kota mana saja kita pernah singgah selama hidup ini? Catatan sejarah perjalanan hidup itu akan melangkapi penandaan pribadi kita di peta sederhana yang diberikan. Persoalannya bukan terletak pada apakah tapak kaki kita telah menapaki seluruh permukaan bumi, tetapi pada seberapa besar nilai seluruh dimensi hidup yang muncul dari segenap pengalaman itu mampu membawa kita pada keridhoan Allah SWT. Berbiak Bersama Dunia Kami bertemu ketika dia menjadi mahasiswa baru UIN Sunan Gunung Djati, Bandung pada semester ganjil 2007. Ketika itu, dia menulis di Peta Hidupnya bahwa ia ingin menjadi